Lickona Dalam Paradigma Pendidikan Islam

Lickona Dalam Paradigma Pendidikan Islam

Oleh : Ratna Juami, S.Pd, M.Pd

Educating For Character: Mendidik Untuk Membentuk Karakter berbicara mengenai kajian penelitian yang Lickona lakukan di sekolah-sekolah di wilayah Amerika dan sekitar Kanada. Situasi sosial yang memprihatinkan menjadi latar belakang permasalahan yang diangkat oleh Lickona untuk dapat diatasi melalui sistem pendidikan. Dekadensi moral yang tercermin dari kenakalan remaja serta merebaknya paham materialisme di tengah-tengah masyarakat diklaim turut serta berkontribusi terhadap pendegradasian moral.

Terdapat lima penyebab yang berkembang di masyarakat maupun dalam dunia akademik (:sekolah) yang mendegradasi moral individu. Pertama merebaknya paham materialisme Darwin, yang mereduksi moralitas individu demi untuk mencapai hal-hal yang bersifat keduniawian serta menghalalkan segala kemungkinan; kedua, adanya paham relativisme Einstein, yang menarik pemahaman nilai-nilai eksternal (:sosial) ke dalam nilai-nilai internal dalam artian nilai “apa” yang baik didasarkan pada sudut pandang masing-masing individu; ketiga, adalah paham Psikologi Empiris Harstone dan May: yang dalam penelitiaanya mengungkapkan terdapat inkonsistensi nilai seseorang yang tergantung dari situasi yang dihadapinya; keempat, adanya paham logical positivism Amerika dan Eropa: yang menitik beratkan pada paham positivisme bahwa segala sesuatu itu harus dapat diukur dan kongkret; kelima, adanya paham individualisme yang merebak pada tahun 1960 hingga 1970: yang merupakan akumulasi dari berbagai paham yang berkembang tersebut.

Lickona melihat pendidikan harus dapat berperan aktif dalam menangkal berbagai aliran yang mereduksi moralitas individu. Melalui penelitian di berbagai sekolah di Amerika dan sekitar Kanada, mulai dari jenjang yang rendah hingga tinggi, ia menemukan bahwa karakter seseorang di sandarkan pada tiga hal yang saling berkaitan satu dengan yang lain.

Moral knowing, merupakan rangkaian kualitas pemikiran yang membentuk pengetahuan moral seseorang untuk sampai pada Moral feeling yang memiliki nilai kebijaksanaa, cinta, syukur dan kerendahan hati, yang menjadi jembatan untuk sampai pada Moral acting yaitu tindakan yang bermoral. Ketiga hal yang saling berkait tersebut membentuk karakter.

Buku kedua masih merupakan uraian dari hasil penelitian yang dilakukan Lickona di sekolah-sekolah Amerika dan sekitar Kanada. Dari penelitian tersebut Lickona mengungkap terdapat 10 nilai kebajikan pada manusia yang mewakili masing-masing tiga bagian moral yang saling berkait (moral knowing, moral feeling dan moral acting)

Moral knowing diwakili oleh nilai kebajikan: Integritas, pengendalian diri dan keadilan. Ketiga nilai kebajikan tersebut merupakan pengejawantahan dari kualitas pemikiran seseorang yang akhirnya memiliki judgement moral.

Moral feeling diwakili oleh kebajikan kebijaksanaan, cinta, syukur dan kerendahan hati. Keempat nilai kebajikan tersebut mewakili kualitas hati nurani individu yang memiliki pendirian moral terhadap suatu hal.

Moral acting diwakili oleh sikap bekerja keras, keberanian dan sikap positif. Ketiga nilai kebajikan tersebut merupakan output dari rangkaian moral knowing dan moral feeling.

 

Lickona Dalam Paradigma Pendidikan Islam

Kajian Lickona dalam mendalami dialektika moral individu yang pada akhirnya melahirkan karakter, yang dirumuskan pada tiga kaitan moral; moral knowing, moral feeling dan moral acting merupakan integrasi pemaknaan mikro maupun makro dalam diri manusia. Apa yang manusia pahami sebagai nilai-nilai kebaikan; yang pertama kali ia dapatkan melalui berbagai informasi yang didapatkan maupun disampaikan pihak lain dapat mempengaruhi penilaian dalam hati sanubari individu, yang realisasi akhirnya terwujud melalui perbuatan yang bersangkutan.

Pemikiran Lickona jika dilihat dari perspektif pendidikan Islam terlihat menjadi satu bagian kecil dari struktur nilai moral pada manusia. Dalam perspektif pendidikan Islam, qalb atau hati memiliki otoritas penuh terhadap pengendalian mikro maupun makro dalam diri manusia. Islam tidak mengenal kesempurnaan manusia hanya pada tataran aql saja, sebab label dzat insaniyyah mestilah terdapat 5 hal pada manusia yang kesemuanya menjadi satu kesatuan entitas. Adapun kelima hal yang dimaksud adalah integrasi wilayah fisik dan wilayah psikis; al jism (jasad) yang mewadahi ruh, aql, qalb, dan nafs (Syihabuddin, 2013:6-10)

Kajian moralitas dalam pemikiran Lickona tidak menjabarkan “wilayah mana” yang dapat mengakibatkan keburukan seseorang yang justru menjadi inti permasalahan karakter. Superioritas akal (moral knowing) dianggap menjadi satu-satunya penentu dalam mempengaruhi perbuatan manusia yang diserap hati nuraninya (moral feeling); yang bila penulis dalami, pemahaman hati nurani memiliki keluasan makna dan bersifat umum, sedangkan dalam pemahaman pendidikan Islam asal muasal kebaikan dan keburukan dipisahkan, yang dapat memudahkan para pendidik untuk menyasar aspek mana yang harus intens diberikan arahan atau pengasuhan/pembinaan.

Kendali qalb merupakan satu-satunya “setir” yang harus dipegang, qalb senantiasa dipengaruhi nafs yang terkadang memiliki pengaruh negatif baik terhadap aql maupun qalb. Maka nafs menjadi inti dari sasaran pendidikan Islam sebab dalam pemahaman Islam, qalb sendiri telah memiliki nilai-nilai ketuhanan atau nilai-nilai dasar kebaikan (Syihabuddin, 2013:6-10)

Kelebihan dari teori Lickona dalam tiga rangkaian moral memiliki panduan terhadap rasionalitas akal serta kualitas pemikiran seseorang yang harus ter-asah untuk mendapatkan berbagai pertimbangan yang komprehensif terhadap sebuah permasalahan. Maka dituntut untuk dapat megembangkan wilayah kognitif individu demi kemampuaanya dalam memutuskan sesuatu. Individu harus memiliki banyak informasi sebelum keputusan moralnya dibuat. Hal  tersebut menstimulasi seseorang untuk mau banyak belajar agar mengetahui banyak informasi.

Kekurangan dari teori Lickona dapat terbaca melalui kacamata pendidikan agama Islam, dimana Islam telah terlebih dahulu memformulasikan sasaran pendidikan yang menjadi inti dari pendidikan karakter (pendidikan manusia) yang secara spesifik dan jelas terbagi ke dalam lima bagian manusia. Detail yang dapat penulis temukan dalam pendidikan Islam merupakan nilai lebih dari generalisasi teori Lickona yang masih harus dipertegas ketiga bagian dari unsur moralitas yang membentuk karakter.

Bagi dunia pendidikan teori Lickona cukup mampu menjawab kebutuhan dalam dunia pendidikan, stimulasi kognitif yang menjadi bagian dari penilaian hati nurani mewakili eksistensi dunia akademis. Dalam keputusan akhir dari prilaku seseorang yang menjadi karakteristik individu. Perluasan informasi menjadi basis dari seberapa berkualitasnya keputusan moral seseorang; termasuk dalam hal ini pengetahuan agama yang dapat dijadikan formula yang tepat bagi asupan informasi.

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Lickona Thomas (2012), Character Matters Persoalan karakter: bagaimana membantu anak, mengembangkan penilaian yang baik, integritas dan kebajikan penting lainnya, Bumi Aksara

Lickona Thomas (2013), Education For Character: Mendidik Untuk Membentuk Karakter, Bumi Aksara

Syihabuddin (2013), Pembelajaran dengan pendekatan Islam, Universitas Pendidikan Indonesia