Khamr

SHALAT DAN MINUMAN KERAS

SHALAT DAN MINUMAN KERAS

Oleh :

Moch. Hisyam

(Alumni STAI Al Musdariyah Kota Cimahi/
Wk. Ketua MUI Kec. Sukasari Bandung)

 

Salat dan minuman keras (miras) merupakan dua hal yang bertolak belakang. Salat merupakan bentuk ketaatan yang mendatangkan rahmat. Sedangkan miras merupakan bentuk kedurhakaan yang mendatangkan laknat.

Dua hal yang bertolak belakang itu dipertemukan  Allah SWT didalam Al-Qur’an surat an-Nisa ayat 43 dalam konteks tidak diperkenankannya shalat jika dalam keadaan mabuk. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…”

Keterangan dalam firman Allah tentang salat dan miras (memabukkan) di dalam ayat tersebut, memberikan banyak hikmah penting bagi kita. Ayat itu  dapat menjadi pelajaran dan bimbingan bagi kita untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan hidup  di dunia maupun diakhirat kelak,yaitu meningkatnya kualitas salat kita dan menjauhi minuman keras.

Setidaknya ada dua hikmah besar yang dapat kita petik dari ayat yang mempertemukan antara shalat dan mengkonsumsi minuman yang memabukkan. Pertama, orang yang shalat tidak diperkenankan mendekati hal-hal yang bisa memabukkan atau khamar. Sangatlah kontradiktif bila satu sisi kita melaksanakan shalat tetapi disisi lain kita berbuat maksiat dengan mengkonsumsi miras. Seperti ada  istilah Muslim STMJ. Shalat Terus Maksiat Jalan.

Hal ini tidak boleh terjadi karena diantara efek dari shalat adalah mencegah dirinya dari perbuatan mungkar. Allah SWT berfirman,”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (Q.S. Al-Ankabut: 45).

Jika shalat kita tidak menjadikan terjauh dari perbuatan mungkar dipastikan salat kita tidak ada manfaatnya bahkan menjauhkan diri kita dari Allah SWT. Ibnu Masud berkata, “Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.” (HR. Ahmad)

Disamping itu, Al-Hasan  berkata pula, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari dengan sanad yang shahih dari jalur Said bin Abi Urubah dari Qotadah dari Al Hasan)

Kedua. Orang yang shalat harus ingat kepada Allah. Diantara pengaruh dari miras, khamar atau sesuatu yang memabukkan adalah menghilangkan daya ingat. Orang yang mabuk adalah orang yang lupa dan tidak ingat dengan apa yang dilakukannya. Maksudnya, jika kita shalat jangan seperti orang yang mabuk. lupa dan tidak ingat bahwa dirinya sedang melaksanakan shalat atau sampai lupa makna dari bacaan dan gerakan shalat yang sedang kita baca dan kita lakukan.

Jika kita melaksanakan salat dengan lalai atau lupa dengan salat yang kita lakukan akan menyebabkan diri kita celaka dan dilaknat tak ubahnya atas laknat bagi orang yang meminum miras atau khamar. Allah SWT berfirman, “Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya.” (Q.S Al-Ma’un (107) ; 4-5)

Rasulullah SAW bersabda, “Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan.” (HR. Ahmad).

Semoga peringatan Isra Mi’raj yang kita peringati saat ini dan kasus legalisasi miras yang terjadi saat ini menjadikan kita berupaya untuk mendirikan salat dengan sebaik-baiknya sehingga salat yang kita laksanakan tidak seperti orang yang mabuk. Wallahu’alam

***